Langsung ke konten utama

Fiksi

Jangan-jangan aku hanya cerita fiksi yang pernah membekas di antara selangkanganmu
Pada waktu yang tepat
Kau akan angkat aku lalu kau jadikan buah tangan bagi pria lain
Mereka akan meloncat kegirangan
Lalu pergi menceritakannya kepada dunia
Persis para rasul yang diutus rabi mewartakan kasihnya
Benar kata orang, cinta
Fiksi memang lebih menggiurkan dari pada kenyataan
Apalagi dalam urusan lelaki
//
Senyata-nyatanya indah lekuk tubuhmu
Kau tak lebih dari seonggok daging pemicu berahi
Di sanalah puncak kenikmatan fiksi akanmu
Kau berhasil memiskinkan sudut pandangku tentang kecantikan
Kini dadamu hanya tentang payudara
Bukan lagi etalase indah berisi hati semesta
Pada akhirnya aku hanya benar-benar manusia yang berusaha mengawinkan diri dengan kesudahan
Cerita fiksi yang tak lelah berpindah dari selangkangan ke selangkangan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-Bagian Rumah

Air sisa cucian yang sedari tadi ditumpahkan masih saja menetes, menciptakan genangan berlumpur di sekitar tenda cucian. Hampir mirip rawa-rawa kecil. Beberapa bungkus sabun colek ekonomis nampak berserakan di sekitar tenda, begitu juga dengan butir-butir nasi sisa makanan. Tenda cucian yang licin dan hitam legam pada bagian atasnya, genangan lumpur hitam di sekitarnya, serta bungkus-bungkus sabun colek yang sudah pudar warnanya membuktikan umur tenda itu, dan betapa banyaknya air sisa cucian yang selama ini ditumpahkan padanya. Seorang wanita jangkung berdaster melangkah ke dalam rumah melalui pintu dapur. Rambutnya yang sebagian beruban nampak berkilau ditempa cahaya matahari pagi, khas rambut-rambut wanita desa yang rutin digumuli santan kelapa tua. Otot-otot tangannya nampak mengencang seiring diangkatnya sebaskom cucian perkakas makan yang semalam dipakai. Demikian juga dengan otot-otot kaki yang mengancang seiring ia melangkah, tanda beratnya cucian perkakas yang ia bawa. De...

Sapardi Hidup Lagi

Sayup matamu jelas terlihat dari foto-foto lawas yang diunggah oleh muda-mudi sosialita. Kau terlihat rupawan dengan topi nyentrik dan wajah oval berkerut. Garis wajahmu menyilang satu sama lain. Persis hujan bulan Juni dan kesederhanaan cintamu pada dunia, yang bercampur indah dalam alunan syairmu. Aneh juga. Mereka tiba-tiba sedih dan beramai-ramai jatuh cinta padamu. Ada yang tahu kau siapa. Ada yang tau apa yang sudah kau buat. Ada juga yang benar-benar jatuh cinta padamu. Ada juga yangbenar tidak tahu kau siapa. Barang kali hanya karena kebetulan melihat wajahmu pada qoute-quote cinta pada gawai mereka. Maka benarlah katamu. 'Aku mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. 'Kau harus mati dahulu, agar kau hidup. Begitukah?Beberapa bertanya, 'apakah kau mati dibunuh zaman? Apakah kau sudah tidak tahan menjadi hujan bulan Juni, yang kau syairkan begitu indah? Atau apakah cinta Tuhan sudah selesai padamu? ...

asbak dan rindu kesumatnya

 Asbak itu sudah melamun sejak lama Ia rindu abu dan puntung memenuhinya Abu dan puntung yang kadang melimpah Melimpah sampai-sampai dimuntahkan keluar Ia rindu saat-saat api rokok dimatikan Lalu pelan-pelan menghembuskan asap terakhir padanya Ia rindu tampilannya yang dekil dan berkerak Abu-abu lawas yang mengendap Mengendap lalu menghabiskan malam bersamanya // Sewaktu-waktu ia menggerutu Masakan ia kembali seperti barang etalase Mengkilap bak mobil-mobil kepala desa Ia benci saat dipajang di meja ruang tamu Ia benci ratap rindunya entah sampai kapan // Kemarin ia sempat naik pitam Dijatuhkanlah dirinya pada kaki pemiliknya Ingin ia dengar geraman marah dan rintih kesakitan Ingin ia balas tuntas rindu kesumatnya