Langsung ke konten utama

Nafkah Anak Perawan


Lapar sangat anak perawan lapar sangat

Barangkali sudah berminggu-berminggu batinnya tak terisi

Tak dinafkahi berahi katanya

Adapun pergilah ia melalang ke rumah-rumah pembeli rupa
Pun juga ke kos-kos mahasiswa

Barangkali ada remah-remah berahi yang bisa ia makan

Nihil

Semakin ke sini semakin ia sadar

Ia ternyata lapar welas

Ia haus asih

Dan nafsu berahi merasukinya lebih dulu

//

Semakin lapar anak perawan semakin lapar

Entah sampai kapan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-Bagian Rumah

Air sisa cucian yang sedari tadi ditumpahkan masih saja menetes, menciptakan genangan berlumpur di sekitar tenda cucian. Hampir mirip rawa-rawa kecil. Beberapa bungkus sabun colek ekonomis nampak berserakan di sekitar tenda, begitu juga dengan butir-butir nasi sisa makanan. Tenda cucian yang licin dan hitam legam pada bagian atasnya, genangan lumpur hitam di sekitarnya, serta bungkus-bungkus sabun colek yang sudah pudar warnanya membuktikan umur tenda itu, dan betapa banyaknya air sisa cucian yang selama ini ditumpahkan padanya. Seorang wanita jangkung berdaster melangkah ke dalam rumah melalui pintu dapur. Rambutnya yang sebagian beruban nampak berkilau ditempa cahaya matahari pagi, khas rambut-rambut wanita desa yang rutin digumuli santan kelapa tua. Otot-otot tangannya nampak mengencang seiring diangkatnya sebaskom cucian perkakas makan yang semalam dipakai. Demikian juga dengan otot-otot kaki yang mengancang seiring ia melangkah, tanda beratnya cucian perkakas yang ia bawa. De...