Langsung ke konten utama

asbak dan rindu kesumatnya

 Asbak itu sudah melamun sejak lama

Ia rindu abu dan puntung memenuhinya

Abu dan puntung yang kadang melimpah

Melimpah sampai-sampai dimuntahkan keluar

Ia rindu saat-saat api rokok dimatikan

Lalu pelan-pelan menghembuskan asap terakhir padanya

Ia rindu tampilannya yang dekil dan berkerak

Abu-abu lawas yang mengendap

Mengendap lalu menghabiskan malam bersamanya

//

Sewaktu-waktu ia menggerutu

Masakan ia kembali seperti barang etalase

Mengkilap bak mobil-mobil kepala desa

Ia benci saat dipajang di meja ruang tamu

Ia benci ratap rindunya entah sampai kapan

//

Kemarin ia sempat naik pitam

Dijatuhkanlah dirinya pada kaki pemiliknya

Ingin ia dengar geraman marah dan rintih kesakitan

Ingin ia balas tuntas rindu kesumatnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagian-Bagian Rumah

Air sisa cucian yang sedari tadi ditumpahkan masih saja menetes, menciptakan genangan berlumpur di sekitar tenda cucian. Hampir mirip rawa-rawa kecil. Beberapa bungkus sabun colek ekonomis nampak berserakan di sekitar tenda, begitu juga dengan butir-butir nasi sisa makanan. Tenda cucian yang licin dan hitam legam pada bagian atasnya, genangan lumpur hitam di sekitarnya, serta bungkus-bungkus sabun colek yang sudah pudar warnanya membuktikan umur tenda itu, dan betapa banyaknya air sisa cucian yang selama ini ditumpahkan padanya. Seorang wanita jangkung berdaster melangkah ke dalam rumah melalui pintu dapur. Rambutnya yang sebagian beruban nampak berkilau ditempa cahaya matahari pagi, khas rambut-rambut wanita desa yang rutin digumuli santan kelapa tua. Otot-otot tangannya nampak mengencang seiring diangkatnya sebaskom cucian perkakas makan yang semalam dipakai. Demikian juga dengan otot-otot kaki yang mengancang seiring ia melangkah, tanda beratnya cucian perkakas yang ia bawa. De...